SIAPA KREATOR ALQUR'AN
Banyak orang meragukan keaslian Alqur'an sebagai wahyu
Allah SWT. Tak sedikit bahkan dengan tegas menyimpulkan
bahwa Alqur'an bukanlah wahyu Allah. Pernyataan seperti ini tentulah
akan menimbulkan pertanyaan, siapa yang ada di balik kemunculan Alqur'an. Apakah ia merupakan karya makhluk halus, yang di dunia
Arab dikenal dengan sebutan jin, ataukah hasil ciptaan tangan-tangan manusia.
Jika Alqur'an ditelaah, atau setidak-tidaknya dibaca
dengan kritis, orang akan sampai pada kesimpulan bahwa ada tangan manusia di
sana. Dan tangan manusia yang bertanggung jawab di sana adalah Muhammad. Harus
jujur dikatakan bahwa Alqur'an merupakan rekayasa nabi Muhammad
SAW. Hal ini sebenarnya sudah terungkap sejak kemunculannya
pertama kali. Setidaknya
ada tiga argumen untuk membuktikan kebenaran ini.
1.
Alqur'an
bertentangan dengan ilmu pengetahuan
Pastilah semua orang, apapun agamanya, sepakat bahwa esensi Allah itu
adalah Mahabenar, Mahatahu dan Maha Sempurna serta kekal. Karena itu, haruslah
diterima bahwa Alqur'an yang merupakan wahyu Allah mestilah tanpa kesalahan,
tidak ada kekurangan, harus lengkap dan benar. Akan tetapi, jika ditelaah
dengan saksama Alqur'an tidak memenuhi standar tersebut.
Pertama, ada pertentangan antara wahyu Allah dengan ilmu pengetahuan. Misalnya soal matahari
yang bergerak (QS Yasin: 38, 40; QS Ibrahim: 33; QS al-Anbiya: 33; QS ar-Rahman: 5; QS Yunus: 5), atau proses
terbentuknya manusia (QS
Mukmin: 67; QS Fatir: 11; QS al-Mukminun: 12 – 14; QS al-Hajj: 5). Alqur'an mengatakan bahwa
matahari beredar pada orbitnya dan manusia terjadi dari campuran tanah dan
setetes mani yang ditempatkan dalam rahim. Namun ketika dikonfrontasikan dengan
ilmu pengetahuan, maka bisa dikatakan bahwa Alqur'ann salah: matahari tidak
pernah beredar tapi tetap, dan tidak ada unsur tanah dalam terbentuknya manusia.
Jika Alqur'an sungguh wahyu Allah, maka seharusnya Allah mengatakan bahwa
matahari tak beredar atau manusia terbentuk dari pertemuan sel sperma dan sel
ovum yang kemudian ditempatkan dalam rahim. Keterbatasan manusiawi membuat
Muhammad mengatakan soal matahari yang sesuai dengan pendapat umum yang berlaku
waktu itu. Di samping itu Muhammad mencampur-adukkan informasi kisah Adam dan
terjadinya manusia pada umumnya sehingga muncullah campuran tanah dan air mani.
Bahan tanah adalah informasi yang Muhammad dapat dari kisah penciptaan Adam,
sedangkan air mani adalah pengetahuan umum (setiap kali melakukan hubungan
seks, dia selalu mengeluarkan cairan putih kental, yang disebut mani). Keterbatasan
pengetahuan membuat dia mengatakan air mani, padahal ada perbedaan antara air
mani dan sel sperma. Inilah bukti bahwa Alqur'an adalah rekayasa Muhammad.
Kedua, ada perbedaan antara wahyu Allah dengan ilmu sejarah. Alqur'an mengatakan
bahwa yang mati di kayu salib bukan Yesus (Isa Almasih) tetapi orang yang
diserupakan dengan Dia (QS
an-Nisa: 157). Sejarah dunia mencatat bahwa yang mati adalah Yesus. Bukan
hanya catatan sejarah orang Kristen tetapi juga orang non Kristen seperti
Yahudi, Yunani dan Romawi; semua mengatakan Yesus mati di salib. Jika benar
Allah SWT, yang menampaikan wahyu dalam Alqur'an, adalah maha benar dan
sempurna, pastilah Dia memberikan informasi yang benar juga. Namun nyatakan,
informasi tersebut salah. Inilah bukti bahwa Alqur'an adalah rekayasa
Muhammad. Mungkin ada pertimbangan tertentu sehingga ia mengatakan informasi
yang berbeda dengan sejarah dunia, bahwa yang mati itu orang yang diserupakan
dengan Yesus
2.
Inkonsistensi
dalam Alqur'an
Esensi
Allah lainnya, yang juga diakui oleh semua umat manusia, adalah bahwa Allah itu
kekal. Kekekalan Allah itu terlihat dari Allah tidak berubah-ubah. Karena itu,
haruslah diterima bahwa di dalam Alqur'an akan tampak konsistensi Allah itu. Akan tetapi, jika ditelaah dengan saksama Alqur'an tidak memenuhi standar
tersebut. Allah, dalam Alqur'an, suka berubah-ubah.
Misalnya informasi tentang sorga. Dalam banyak surah
dikatakan bahwa penghuni sorga itu kekal. Artinya, mereka akan bahagia
selamanya. Akan tetapi, Alqur'an juga menceritakan bahwa setan, Adam dan Hawa
yang sebelumnya berada di sorga diusir keluar. Hal ini membuktikan Allah tidak
konsisten. Kesimpulan sederhana adalah Alqur'an merupakan hasil rekayasa
Muhammad. Informasi tentang kisah Adam dan Hawa didapat dari tradisi Kristen
dan Yahudi, namun tidak sepenuhnya didapat sehingga dikatakan bahwa Adam, Hawa
dan setan/iblis ada di sorga, lalu kemudian diusir keluar dari sana. Ketika
mengatakan Adam, Hawa dan setan diusir dari sorga, Muhammad lupa kalau dia
pernah mengatakan bahwa penghuni sorga itu kekal.
Contoh
lain adalah soal kata ganti Allah. Setidaknya ada 4 kata ganti untuk Allah,
yaitu Kami, Aku, Dia dan Allah. Keempat kata ganti ini tersebar di seluruh Alqur'an. Berubah-ubahnya kata ganti Allah menunjukkan bahwa nabi Muhammad ada
di baliknya. Keterbatasan manusiawi membuat Muhammad terkadang lupa kalau
beberapa hari lalu Allah berbicara menggunakan kata ganti Kami, sementara
sekarang dipakai kata ganti Dia, dan beberapa hari kemudian Allah menggunakan
kata ganti Aku.
Masih
ada banyak contoh ketidak-konsistenan keterangan yang ada dalam wahyu Allah.
Informasi yang berubah-ubah membuktikan bukan Allah yang menyampaikan wahyu,
karena Allah itu kekal; Dia tidak akan berubah-ubah. Hanya manusia-lah yang
bisa berubah-ubah. Semua ini karena kemampuan daya ingatnya yang terbatas. Dan
manusia yang ada di balik Alqur'an ini adalah Muhammad. Dia-lah yang
berkata-kata dan meletakkan kata-katanya itu pada mulut Allah sehingga orang
menerimanya sebagai wahyu Allah.
3.
Wahyu
post-factum
Ada
beberapa wahyu yang bertujuan untuk membela nabi Muhammad, sehingga ia bisa
lepas dari situasi problematik dan dilematik. Artinya, nabi Muhammad pernah
menghadapi masalah, yang bisa menjatuhkan pamornya. Sepertinya nabi sudah
kehilangan akal untuk mencari solusi. Maka, “diciptakanlah” wahyu, yang
dikatakan dari Allah, dimana wahyu ini bertujuan untuk membelanya sekaligus
membantunya keluar dari permasalahan yang dihadapi. Misalnya, ketika Muhammad
menghadapi masalah hendak menikahi Zainab, yang adalah menantunya sendiri.
Muhammad, ketika melihat aurat Zainab, langsung tinggi syahwatnya. Mau langsung
menyalurkan, tak bisa karena jatuh dalam dosa perzinahan. Mau menikahinya juga
tak etis, karena Zainab adalah menantunya. Menghadapi situasi pelik ini,
“diturunkanlah” wahyu Allah (QS al-Ahzab: 36 – 40) sehingga Muhammad bisa
menikahi Zainab dan menyalurkan gairah seksualnya tanpa menimbulkan gejolak di
tengah umat. Contoh lain adalah ketika Muhammad menghadapi kasus
perselingkuhannya dengan Mariah Kuptiah, yang adalah budaknya. Tentu orang akan
bertanya, bagaimana mungkin sang nabi yang sudah punya istri banyak masih juga
selingkuh. Untuk meredam gejolak ini, “diciptakanlah” wahyu Allah (QS
at-Tahrim: 1 – 3) sehingga Muhammad terbebas dari masalah. Kita bisa menambah
beberapa contoh wahyu Allah yang terkesan “diciptakan” untuk membantu Muhammad
keluar dari masalah. Dari wahyu-wahyu tersebut terlihat bahwa semua itu
hanyalah rekayasa Muhammad agar dia terbebas dari masalah dan tidak menimbulkan
gejolak di tengah umat.
DARI
semua uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Alqur'an bukanlah wahyu Allah,
melainkan wahyu Muhammad. Nabi Muhammad-lah yang menciptakan wahyu-wahyu yang
ada dalam Alqur'an, dan kemudian dikatakan bahwa Allah-lah yang bersabda. Dengan kata lain, perkataan nabi Muhammad SAW diletakkan
pada mulut Allah SWT sehingga terkesan seperti Allah yang bersabda.
Komentar
Posting Komentar