Postingan

MUHAMMAD MEMBAWA KEMUNDURAN

Musa, Yesus dan Muhammad adalah tiga tokoh penting dalam tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama itu dikenal dengan istilah Agama Samawi. Dapat dikatakan bahwa Musa, Yesus dan Muhammad merupakan peletak dasar religiositas tiga agama tadi. Musa sebagai peletak dasar bagi agama Yahudi, Yesus Kristus bagi kekristenan, dan Muhammad bagi agama Islam. Akan tetapi, tiga agama ini menyatu pada sosok Abraham. Sebagai peletak dasar religiositas, ketiga tokoh tersebut mewakili masanya. Dan kebetulan kehadiran mereka dalam sejarah kehidupan manusia tidaklah sama, namun menunjukkan garis linear. Masing-masing hidup dengan sejarahnya. Musa hidup antara tahun 1527 – 1407 SM, Yesus Kristus hidup sekitar tahun 5 SM – 33 M, dan Muhammad hidup antara tahun 570 – 632 M.

MEMAHAMI PERANG ATAS NAMA AGAMA

Fenomena kekerasan dengan mengatas-namakan agama dan Tuhan menjadi suatu keprihatinan tersendiri bagi Karen Armstrong. Aksi terorisme dan fundamentalisme agama menjadi biang banyak perang di belahan bumi ini, tak terkecuali Israel-Palestina. Keprihatinan Karen Armstrong atas fenomena ini dituangkan dalam buku-bukunya seperti  Jerusalem: One City, Three Faiths  (1996),  Battle for God  (2000) dan juga  Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World. Buku yang terakhir ini, pertama kali diterbitkan pada tahun 1988 di Inggris (hlm 9). Karen Armstrong mengawali ulasannya dari peristiwa Perang Salib pertama yang diserukan oleh Paus Urbanus II pada tanggal 25 November 1095 (Bab I, hlm 27 – 94). Bagi Karen Armstrong, Perang Salib ini menimbulkan luka dan kebencian yang tak terdamaikan pada tiga agama Samawi ini, yang darinya melahirkan prasangka-prasangka (hlm 12). Karen Armstrong menilai bahwa perang salib berkaitan erat dengan konflik modern dan hubunga...

TERORISME: KAMI SUDAH MUAK

Terorisme tak bisa dipisahkan dari islam . Inilah kesan yang selalu muncul ketika muncul aksi teror. Kalau tindakan tersebut dilakukan pihak lain, orang punya istilah lain. Misalnya, aksi penembakan para pekerja jalan trans Papua bukan dilakukan oleh para teroris melainkan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) atau biasa juga disebut organisasi Papua merdeka (OPM). Apakah ini suatu ketidak-adilan diksi? Di satu sini dapat dikatakan memang demikian, namun di sisi lain tidaklah demikian karena ada pembedanya . Kelompok kriminal bersenjata, tak terkecuali di Papua saja, melakukan aksinya atas dasar kepentingan politik atau ekonomi, sedangkan terorisme mendasarkan perbuatannya pada ajaran agama (silahkan baca Agama sebagai Roh Terorisme ).

REFLEKSI ATAS BUKU SEJARAH TEROR

CUKUP menarik kalau kita membaca buku “ SEJARAH TEROR: Jalan Panjang Menuju 11/9 ”. Buku ini ditulis Lawrence Wright dengan mewawancarai langsung pelaku-pelaku sejarah tersebut, baik dari pihak teroris, Arab maupun Amerika. Ada lebih dari 500 narasumber yang diwawancarai. Karena itu benar apa yang dikatakan  The Wall Street Journal  bahwa buku ini “Didasari riset yang mendalam...”. Membaca buku ini, kita akan dicengangkan betapa ajaran islam dijadikan dasar tindak terorisme. Di banyak halaman buku ini diungkapkan bahwa tindakan yang dilakukan berdasarkan ajaran Al-Qur’an. Lawrence Wright menulis bahwa para tokoh sentral teroris ini adalah juga orang yang teguh berpegang pada agamanya. Mereka mengaku sebagai islami, karena menerapkan ajaran islam. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Osama bin Laden merupakan prototipe Muhammad. Karena itulah, menjadi pertanyaan kita:  bagaimana bisa seseorang yang religius sekaligus juga teroris . Tapi itulah yang terjadi.

TAK MUNGKIN BISA MEMBASMI TERORISME

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan. Sedangkan Wikipedia mengartikan terorisme sebagai serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, terorisme tidak tunduk pada tata aturan perang.